Kamis, 04 April 2013

Pengobatan Kanker secara medis

Menurut Dr Dradjat, berikut terapi-terapi kanker yang terbukti secara medis:


1. Terapi Operatif (terapi lokal)

Terapi lokal dapat terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama adalah terapi operatif dan terapi non operatif. Satu-satunya terapi yang dapat mengangkat tumor secara lengkap dengan daerah infiltrasinya hanyalah operasi. Tidak ada tindakan lain yang dapat mengangkat tumor secara lengkap selain operasi.


Namun operasi hanya berhasil baik bila kanker dapat diangkat secara utuh beserta daerah penyebaran lokalnya, karena itu penting untuk menentukan apakah kasusnya masih 'operable' atau tidak.



"Oleh karena itu seorang pasien seharusnya merasa senang bila akan di operasi karena itu menandakan penyakit kankernya masih dapat dikontrol secara lokal dan belum menyebar jauh. Bila terapi bedah dilakukan secara baik dan dilakukan oleh seorang yang mengerti benar mengenai pertumbuhan kanker serta pada saat yang dini, maka secara lokal kanker itu dapat disembuhkan," tegas Dr Dradjat.



2. Terapi Radiasi (terapi lokal)

Terapi lokal lain adalah terapi radiasi. Radioterapi menggunakan sinar pengion sehingga sel kanker dapat dihancurkan. Sayangnya, dengan cara ini tak dapat menghancurkan seluruh sel kanker karena mengikuti kaidah 'log cell kill', sehingga membunuh secara logaritmik yang mengakibatkan selalu ada sel kanker yang tersisa.


Tingkat kedalaman radiasi pun terbatas sehingga untuk kanker dengan ukuran besar radiasi tak akan dapat bermanfaat baik. Saat ini berkembang radiasi dengan alat khusus seperti 'linear accelerated' dengan daya tembus yang lebih dalam dan tidak terlalu menyebar sinarnya, sehingga daerah yang diradiasi akan lebih tepat.



3. Kemoterapi (terapi sistemik)

Terapi sistemik adalah terapi melalui infus sehingga obat dapat masuk ke seluruh sistem di tubuh. Kemoterapi termasuk terapi sistemik yang paling sering digunakan.


Kemoterapi dapat bersifat sebagai pelengkap (Adjuvant) terhadap operasi sehingga operasi akan mengontrol secara lokal, sedangkan kemoterapi mengontrol sel-sel kanker yang sudah menyebar ke tempat lain. Kemoterapi dapat juga bersifat sebagai terapi utama yaitu bila kanker sudah menyebar dan secara lokal pun sudah tidak dapat di operasi lagi.



Saat ini berkembang cara kemoterapi yang disebut 'Neo Adjuvant'. Dengan cara ini kemoterapi sebagian diberikan sebelum operasi (biasanya 3 siklus) dengan tujuan mengecilkan kanker yang besar sehingga operasi dapat dilakukan dengan baik yaitu mengengkat seluruh tumor beserta infiltrasi lokalnya. Sisanya 3 siklus lagi diberikan setelah operasi.



Kemoterapi dapat pula diberikan secara paliatif dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan bukan dengan tujuan menyembuhkan. Ketidaknyamanannya adalah efek samping yang cukup berat.



4. Terapi hormonal (terapi sistemik)

Pada kanker yang sensitif terhadap hormon seperti kanker prostat dan kanker payudara, maka bila terdapat reseptor hormonal yang positif dapat dilakukan terapi hormonal.


Caranya adalah dengan memberikan tablet atau suntikan anti-hormon sehingga tercipta suasana tubuh yang tidak nyaman untuk pertumbuhan sel kankernya. Terapi hormonal biasa diberikan sebagai adjuvant namun pada keadaan lanjut dapat diberikan secara paliatif.



5. Imunoterapi (terapi sistemik)

Terapi lain secara sistemik adalah imunoterapi, yaitu dengan menyerang sel kanker melalui sistem imun. Cara ini cukup efektif dan dengan efek samping yang ringan namun hanya secara spesifik menyerang 'sekelompok' sel kanker sehingga tidak semua sel kanker dapat dihancurkan.


Selain itu, cara ini membutuhkan biaya besar. Dengan cara ini berbagai upaya yang dikembangkan antara lain menyerang sistem yang mengatur pertumbuhan sel kanker atau dengan menghambat sistem aliran darah terhadap sel kanker. Dengan demikian kelompok sel kanker yang mempunyai tanda tertentu ('marker' atau 'receptor') dapat dijadikan target pengobatan dengan cara ini.



6. Trans Arterial Chemo Embolisasi (TACE)

Cara ini menggunakan kemoterapi juga namun biasanya obat kemoterapi diinfuskan ke pembuluh vena sehingga mengikuti aliran ke seluruh tubuh. Dengan cara TACE ini kemoterapi disuntikkan ke pembuluh darah arteri sehingga efeknya terjadi lokal dan dosis pun dapat dikurangi.


Kekurangan cara ini adalah apabila pembuluh arterinya banyak maka akan kurang efektif. Cara ini efektif pada organ dengan mempunyai pembuluh arteri utama sedikit sehingga efek terhadap organ tersebut dapat maksimal dengan efek samping minimal, seperti liver (hati).



7. Cryosurgery

Cara ini menggunakan alat yang dapat menurunkan temperatur setempat pada daerah yang dituju sehingga sel-sel menjadi rusak. Dapat dilakukan pada tumor besar sehingga tidak memerlukan operasi namun dengan tujuan paliatif sehingga hanya untuk mengecilkan massa tumor saja dan bukan untuk menyembuhkan.


Dengan cara ini tidak dapat ditentukan apakah batas-batasnya sudah bebas tumor atau belum, sehingga sangat berbeda dengan operasi di mana dapat memeriksa batas-batas operasi untuk meyakinkan bahwa tepi sayatan sudah bebas tumor atau belum.



Pengobatan komplementer atau alternatif?



Arti kata alternatif tersebut adalah pengganti. Sehingga orang menggunakan terapi alternatif sebagai pengganti pengobatan secara medis. Terapi alternatif ini menjanjikan penyembuhan dengan metode pengobatan sederhana dengan cara minum ramuan, dipijat, akupuntur, ditotok ataupun dengan metode yang tak dapat dicerna oleh akal sehat seperti penyakitnya dipindahkan ke binatang, mengonsumsi racun ular, disengat lebah bahkan terlebih aneh lagi ada yang mengonsumsi urine sendiri.



"Hal ini tentunya dilakukan dengan harapan dapat sembuh dengan tidak perlu dioperasi atau diradiasi terlebih lagi di kemoterapi. Namun setelah terbukti terapi alternatif tersebut gagal, maka dengan mudahnya pemberi jasa pengobatan alternatif memakai alasan tidak berjodoh atau tidak cocok," pungkas Dr Dradjat.



Padahal biaya yang dikeluarkan oleh penderita tidak kecil, dikatakan jasanya gratis tetapi harus membeli ramuan yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Bukti yang diperoleh pun hanyalah bukti testimonial atau mitos leluhur yang tentunya bukan merupakan dasar yang kuat untuk orang yang mau berpikir.



Agar masyarakat mendapatkan pengobatan yang benar-benar bermanfaat, maka perlu dilakukan metode yang terstruktur dan terukur seperti uji klinis dengan berbagai tingkatan, sehingga dapat dibuktikan bahwa dimanapun pengobatan dilakukan asal dengan metode yang sama akan mencapai hasil yang sama pula.



Sebenarnya pengobatan medis juga menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan, seperti contohnya obat kemoterapi Paclitaxel berasal dari kulit pohon sejenis pinus yang disebut Taxus Baccata di Amerika dan Taxus Chinensis di Asia. Contoh lain Vincristine berasal dari bunga Vinca Rossea dari Madagaskar. Tetapi kemudian dicari dan dipisahkan zat aktifnya sehingga dapat ditentukan dosisnya secara akurat.



Sebaliknya, pengobatan alternatif menggunakan herbal dengan tanpa mengetahui zat aktifnya langsung dipasarkan ke masyarakat.



"Sebenarnya hal ini sangat tidak etis, karena bahkan sudah dikonsumsi manusia sebelum uji binatang. Walaupun telah diuji di laboratorium tentang kandungannya, tetapi zat aktifnya belum diketahui dan disaripatikan, belum diukur kadarnya, belum ditentukan dosisnya, belum diketahui efek sampingnya. Sungguh hal ini amat memprihatinkan karena masyarakat langsung tergiur oleh harapan betapa sederhananya pengobatan tersebut, padahal sungguh tak masuk akal bila benar-benar ingin mengkajinya dengan akal sehat," papar Dr Dradjat.



Di mancanegara pun berkembang pula penelitian tentang terapi alternatif seperti herbal, akupunktur, hipnose dan banyak lagi lainnya, tetapi hanya digunakan untuk menunjang terapi medis seperti untuk mengurangai rasa sakit, mengurangi mual, meningkatkan daya tahan tubuh dan memulihkan nafsu makan yang menurun tetapi belum pernah ada yang khusus ditujukan untuk pengobatan kanker secara mandiri.



Bahkan Traditional Chinese Medicine pun di negaranya digabung dengan metode pengobatan barat. Di Belanda lebih kurang 10% pasien datang ke pengobatan alternatif selain ke dokter, sedangkan di Indonesia mungkin lebih dari separuh pasien kanker menjalani juga pengobatan alternatif.



Di Indonesia terdapat 9600 jenis tanaman obat tetapi yang dimanfaatkan baru 350 jenis sedangkan yang sudah diuji klinis sehingga disebut fitofarmaka baru 5 jenis yang tidak satupun indikasinya terhadap kanker. Ujiklinis terhadap tanaman obat itu penting dilakukan bukan untuk mempersulit pengembangan pengobatan alternatif tetapi sebagai upaya untuk menghargai hak pasien terhadap informasi yang benar dan tidak menyesatkan.



"Oleh karena itu, jadikanlah terapi lain selain medis sebagai terapi komplementer yaitu untuk melengkapi terapi medisnya misalnya untuk meningkatkan keadaan umumnya, menambah nafsu makan. Kalau memang percaya bahwa terapi herbal, terapi tradisional dapat menyembuhakan, maka gunakanlah setelah terapi medis yang sudah jelas buktinya secara statistik mengenai prosentase kesembuhannya dan bukan hanya testimonial yang belum tentu benar, tutup Dr Dradjat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar